beritadunesia-logo

Geblek

Begitu digigit, rasanya seperti kerupuk yang melempem, tetapi gurih. Jika memakannya bersama tempe benguk akan sedikit mengingatkan akan nikmatnya jadah Kaliurang dengan tempe bacemnya. Begitulah cita rasa geblek, makanan khas dari Kabupaten Kulon Progo.

Karena \"wajib\" dinikmati bersama tempe itulah, geblek sering disebut geblek-tempe. Proses membuatnya cukup mudah, tinggal mengaduk tepung pati dengan air, lalu dicampur parutan kelapa dan bumbu, yakni garam dan bawang putih. Adonan lalu dibentuk dan selanjutnya digoreng.

\"Membuatnya begitu saja. Kalau ditanya tentang perbedaan rasa, yang bisa merasakannya, kan para pembeli,\" ujar Ny Gino Siswanto (60), warga Dusun Mrunggi, Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih, yang sudah membuat geblek sejak tahun 1960-an.

Penggemar geblek tentu tidak asing dengan warungnya karena letaknya di samping Pemandian Clereng. Atas alasan itulah dusun tersebut lebih dikenal dengan nama \"dusun clereng\". Selain Clereng, produsen geblek lainnya adalah Dusun Kepek dan Dusun Serang, yang masih satu desa.

Asal-muasal geblek, dikisahkan Gino yang termasuk angkatan pertama pembuat makanan itu, berawal dari coba-coba. Namun, ternyata bisa berkembang sehingga di tiga dusun itu kini ada 40-an pembuat geblek. Pada awalnya, geblek belum memakai parutan kelapa dan bawang putih sehingga rasanya kurang \"menggigit\".

\"Dulu, sekitar tahun 1970, Presiden Soeharto berkunjung kemari. Saat itu geblek sudah cukup dikenal, namun memang belum populer. Untuk kunjungan Pak Harto itu, pak camat minta agar geblek dibuat lebih enak. Akhirnya, adonan ditambah kelapa dan bawang, dan ternyata banyak yang suka,\" tutur Ny Gino.

Dia menghabiskan minimal 20 kilogram tepung pati setiap hari. Namun, pada akhir pekan atau hari raya, jumlah tersebut bisa berlipat hingga tiga kali. Untuk setiap kilogram tepung pati bisa dihasilkan 750 gram geblek atau 18 potong geblek matang warna putih. Satu potong geblek dijualnya Rp 500.

\"Geblek paling cocok dimakan bareng tempe benguk. Akan tetapi, banyak juga yang lebih suka tahu bacem sehingga kami juga menyediakannya,\" ujarnya, Senin (30/4). Hari itu ia kelarisan geblek yang diborong pembeli meski jarum jam belum menunjuk pukul 12.00. Tidak menarik

Makanan khas Kulon Progo itu memang tidak semenarik kue-kue atau jajanan pasar jika dilihat dari sisi fisik semata. Ketika geblek yang masih hangat dibungkus dalam plastik dan kita membukanya beberapa jam kemudian, geblek-geblek sudah saling lengket dan terkesan bantat.

http://www2.kompas.com/